Kegiatan


Sejarah Panjang Keterlibatan Perempuan Pada Jaringan Pelaku Teror

Sejarah Panjang Keterlibatan Perempuan pada Jaringan Pelaku Teror

"Tugas perempuan akan semakin berat karena bukan hanya menjadi dirinya sendiri, tapi juga untuk melindungi keluarganya," ~Andi Intang Dulung~

Jakarta, FKPT Center - Mengantisipasi penyebarluasan ideologi radikal di tengah mewabahnya Covid-19, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), menggelar diskusi virtual bertajuk "Perempuan Melawan 2 Virus Mematikan: Covid 19 & Radikalisme", Selasa (23/6/2020). Sekretaris Jenderal Asian Muslim Action Network (AMAN), Ruby Kholifah, mengungkap sejarah panjang keterlibatan perempuan pada jaringan teror.

"Bahwa trennya mengalami peningkatan belakangan ini, benar. Tapi sebenarnya keterlibatan perempuan pada jaringan teror berlangsung sejak lama," ungkap Ruby.

Dalam paparannya Ruby mengelompokkan keterlibatan perempuan pada jaringan teror ke dalam empat fase, yaitu rentang 1980-an hingga 1992, 1993 - 2004, 2008 - 2016, dan sejam 2018. Dia menyebut apa yang terjadi di Indonesia merupakan plagiasi atas aktifitas kelompok teror di kawasan Timur Tengah.

Dimulai pada rentang 1980-an hingga 1992, kelompok Hizbulloh dan The Tamil Tigers di Pakistan mulai aktif merekrut perempuan untuk dijadikan pelaku bom bunuh diri, Di belahan lain dunia, yaitu Iran, gerakan revolusi menggeliat yang menggerakkan aksi dukungan negara-negara Islam dunia lainnya.

"Di tahun-tahun itu di Indonesia mulai menggeliat gerakan lanjutan Darul Islam. di kampus-kampus banyak ditemukan Usro dengan agenda jilbabisasi dan pembentukan halaqah khusus perempuan. Buku-buku tentang Dosa Besar dan ayat-ayat yang terlupakan umat muslim dan cerita heroik Zainab al-Ghozali yang ditangkap di Mesir digelorakan sebagai penyemangat," kata Ruby.

Pada rentang 1993 - 2004 mulai ditemukan keterlibatan perempuan pada aksi bom bunuh diri, tepatnya penyerangan Theatre of Moscow pada 2002, dan meningkatnya jumlah pelaku bom di Iraq dua tahun kemudian. Di Indonesia, ungkap Ruby, pada rentang tersebut keterlibatan perempuan masih bersifat pendukung.

"Bagaimana perempuan berjihad mulai  diajarkan dengan menjadikan buku Hukum Jihad pada Perempuan dari pesantren Ngruki mulai ditemukan. Jihad perempuan masih ditekankan pada pernikahan yang akan melahirkan mujahidin kecil untuk melindungi organisasi dan ekspansi jaringan," tandasnya.

Memasuki rentang 2008 - 2016 keterlibatan perempuan pada jaringan teror semakin nampak seiring dengan dideklarasikannya Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Di Indonesia keterlibatan perempuan masih sebatas 'di balik layar', yaitu di ruang-ruang ngobrol online untuk tujuan memperluas jaringan.

"Muncul istilah perempuan jihadi cyber. Tugasnya membentuk komunitas jihad virtual, diseminasi propaganda online, hingga match maker atau online dating yang disamarkan untuk tujuan penyebarluasan ideologi radikal," jelas Ruby.

Puncak keterlibatan perempuan pada jaringan teror di Indonesia terjadi setelah tahun 2018 ketika ditemukan kasus pelaku bom bunuh diri sekeluarga di Surabaya dan Medan. Apa yang terjadi di Indonesia lagi-lagi mengadopsi gerakan yang sama di luar negeri yang dikenal dengan istilah Family Based Terrorism.

"Kita tahu di India saat itu ada sekeluarga yang melakukan pengeboman sebuah hotel, dan di Pakistan dan Afghanistan kejadian yang sama juga banyak terjadi," pungkas Ruby.

Kepala Subdirektorat Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Andi Intang Dulung, mengatakan diskusi virtual ini diadakan sebagai bagian dari upaya pencegahan penyebarluasan ideologi radikal di kalangan perempuan yang terdeteksi mengalami peningkatan belakangan ini. Diskusi ini diikuti oleh pengurus Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) se-Indonesia dan berbagai elemen dari organisasi kewanitaan.

Andi Intang juga mengingatkan kelompok perempuan untuk senantiasa mengingkatkan kewaspadaan terhadap berbagai macam propaganda penyebarluasan ideologi radikal dengan cara memperluas pengetahuan dan jaringan. "Tugas perempuan akan semakin berat karena bukan hanya menjadi dirinya sendiri, tapi juga untuk melindungi keluarganya," pungkasnya. [shk/shk]